Berpisah di Puncak Gedung Tertinggi di Singapura



Pelayaran empat hari tiga malam di Kapal Pesiar terbesar di Asia, Royal Caribbean Ovation of The Seas berakhir Kamis (6/4/2017) siang. Kapal ini berlabuh di Marina Bay Cruise Center Singapura. Saya dan 17 jurnalis lain dari Indonesia langsung disambut M Yusuf di pintu keluar pelabuhan. Ia adalah Tour Guide yang akan membawa kami menjajal keindahan Singapura.

Oleh pria yang sudah beruban ini, kami tidak dibawa melihat gedung-gedung modern yang menjadi ikon Singapura. Namun mendatangi tempat-tempat unik dan tradisional. Tempat pertama yang kami datangi adalah Pasar Tradisional Gelang Serai. Gelang itu berasal dari kata Kilang yang artinya pabrik. Karena dahulunya tempat ini adalah kawasan industri. Kini, daerah ini sebagian besar dihuni oleh orang Melayu. 




Poker I Capsa I BandarQ I Bandarpoker I Sakong Online I Domino99 I AduQ I Tangkas
Begitu tiba di Pasar Tradisional Pasar Kilang Serai, Airis tour guide yang mendampingi Pak Yusuf, bercerita pasar terdiri dari dua lantai.  Lantai satu untuk penjual pakaian, sayur-sayuran, dan kebutuhan sehari-hari. Sedangkan lantai dua ada pusat jajanan tradisional. Bahkan ada rumah makan minang.

"Pasar ini bentuk atapnya seperti rumah tradisional orang melayu. Karena di kawasan ini mayoritas penduduknya Melayu," kata Airis. Saat Bulan Ramadan, di sekeliling pasar akan dipadati oleh penjual makanan untuk berbuka puasa. Pinggir jalan akan dipenuhi pedagang. Seperti Ramadhan Fair di Medan.

"Namun ini khusus untuk Ramadan saja dan sudah mendapat persetujuan pemerintah," tambah Airis. Setelah berkeliling pasar dan mencicipi nikmatnya teh tarik, kami berjalan kaki ke Toko Kue Shazanah. Toko penjual Curry Puff dan Epok epok ini sudah dikelola secara turun temurun. Bentuknya seperti pastel, namun isinya daging dan kentang yang rasanya pedas.





Setelah itu, kami mampir di Toko Kway Guan Huat di Jalan 99 Jo Chiat. Letaknya hanya 50 meter dari Toko Kue Shazanah. Toko kue tradisional ini usianya lebih tua dari toko Shazanah. Sudah ada sejak tahun 1938 dan dijalankan secara turun temurun hingga tiga generasi.
Di tempat ini menjual kue popiah dan pie tee. Yang mengelolanya adalah Michael, generasi ketiga.

"Resep popiah ini dari kakek saya yang berasal dari China. Kakek menikah dengan orang Malaka dan akhirnya tinggal di Singapura dan berjualan popiah. Jadi resepnya langsung dari China," katanya. Ia juga mengajarkan kami cara membuat Popiah, kalau di Indonesia seperti Lumpia. Dari mulai memasak kulit pembungkus popiah hingga cara meraciknya hingga siap untuk di makan.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Entri yang Diunggulkan

PANDUAN CARA INSTALKAN APLIKASI RAJABAKARAT DI ANDROID