Orangutan Tapanuli berjanggut dan berbulu keriting menambah cabang pohon keluarga primata, tapi tampaknya eksistensi mereka tidak akan lama.
Spesies yang baru ditemukan itu dalam situasi hampir punah, kurang dari 800 makhluk berwarna kayu manis itu tersisa di alam bebas.
Sekelompok ilmuwan internasional menggolongkan spesies baru primata ini setelah membandingkan tengkorak dan genom dengan spesies orangutan lainnya.
Mereka memberi nama Pongo tapanuliensis dari daerah di Pulau Sumatera, tempat tinggal beberapa ratus individu orangutan ini.
Populasi orangutan Tapanuli terancam oleh perburuan dan proyek listrik tenaga air yang dapat mengambil wilayah yang luas dari habitat mereka yang terus berkurang.
Primata kedelapan
Biologis telah mengenali tujuh spesies primata yang masih hidup: manusia, gorila timur dan barat, simpanse, bonobo, orangutan Sumatera dan Kalimantan.
Sekarang, menurut makalah yang diterbitkan di Current Biology hari ini, biologis dapat menambah spesies orangutan lainnya ke dalam daftar.
Lantas bagaimana bisa sejumlah mamalia pemanjat pohon terbesar di dunia ini berada di bawah radar begitu lama?
Orangutan terkenal sangat pemalu. Menemukan mereka, terutama di hutan lebat, adalah sulit sebagaimana Erik Meijaard, seorang ilmuwan hutan dan konservasi yang kini di Australian National University, temukan ketika ia menghabiskan tiga tahun di 1990an memetakan dimana orangutan hidup di Kalimantan.
"Saya menyusuri dari hulu ke hilir setiap sungai, pedalaman basah, tapi segera paham kalau mencari orangutan secara aktif tidak akan berhasil," kata ia.
"Jadi saya sangat mengandalkan bicara dengan orang dan lebih banyak mencari sarang."
Setelah ia memetakan orangutan Kalimantan, Dr Meijaards ke Sumatera. Di sana ia membaca catatan yang ditulis penjelajah Belanda di awal 1900an.
Ia melihat penyebutan berulang tentang populasi orangutan di daerah Tapanuli, jauh di selatan dari habitat orangutan Sumatera. Rasa penasarannya terusik, Dr Meijaard pergi ke sana.
